Belajar dari Event Startup Asia

Jalan untuk meningkatkan kesadaran digital di Kota Depok, mau tidak mau, akan mencakup menggelar sebuah event.

Sebagai rintisan, DepokDigital berusaha menggelar DepokConnection (#depcon). Meskipun, harus diakui, beberapa bulan ini event tersebut vakuum.

Namun jika nantinya bisa berjalan rutin, DepCon pun bisa berevolusi jadi event yang lebih besar, dengan target pengunjung yang lebih besar juga.

Kebetulan, pada 8 Juni 2012 lalu, beberapa pendiri DepokDigital sempat menghadiri Event yang layak jadi rujukan Event itu adalah Startup Asia Jakarta.

Lahandi, saya (Wicak) dan Gege sempat nongkrong-nongkrong di gelaran itu. Lain lagi Putra yang bersama Firman (depokmobi / teknojurnal) menggelar Hackathon di acara itu.

Nanti coba kita tanyakan lebih dalam ke Putra bagaimana pengalamannya. Namun untuk tulisan kali ini, berikut adalah beberapa hal yang bisa jadi pelajaran dari event tersebut:

1. Do The Work

Willis Wee, pendiri TechInAsia selaku penyelenggara Startup Asia, melakukan kerja keras dalam mewujudkan acara itu.

Mulai dari mengunjungi media, rekanan dan komunitas yang diharapkan ikut terlibat dengan event itu. Hasilnya, boleh dibilang cukup berhasil dan nyaris semua stakeholder hadir.

2. The Devil’s In The Detail

Satu hal lagi yang  menarik dari event tersebut adalah perhatian pada detail yang cukup baik. Mulai dari Usher Upper Room yang menunggui lift di lantai dasar Annex Building sampai atmosfer yang dibangun dengan Banner yang bergelantungan melimpah dari atap, tembok ‘foto’ dan logo Startup Asia yang tampil dalam bentuk ..eh.. patung (?).

Intinya, kegiatan itu cukup berhasil membawa pengunjungnya “masuk” ke sebuah dunia yang berbeda. Cukup menarik mengingat ruang yang digunakan tidak sebesar, katakanlah JCC atau Jakarta Fair.

3. Talent Choices

Ya, penyelenggara menghadirkan gadis-gadis sexy sebagai penyambut dan pemanis. Namun untuk hal yang penting, mereka memilih menomorduakan faktor “penampilan”.

Untuk MC, misalnya, daripada memilih model cantik atau ganteng, Startup Asia Jakarta menghadirkan Richard Robinson. Seorang, pria paruh baya.

Tapi tak bisa dipungkiri Robinson mampu “berkuasa” di panggung. Apalagi dia juga punya latar wirausaha sehingga ucapannya sungguh nyambung dengan peserta.

Kemudian untuk sesi diskusi, beberapa kali yang jadi pemandu adalah Andi S Boediman (Ideosource).

Coffee Chat sendiri selalu menampilkan blogger dari TechInAsia, termasuk tentunya Willis Wee selaku pendiri.

Kesimpulan

Pada saat DepokDigital membuat event yang besar kelak, saya sungguh berharap kita bisa menunjukkan level yang setara dengan Startup Asia Jakarta. Dan bahkan bisa lebih baik lagi.

Event itu harus bisa profesional, elegan, rapih dan (ini yang paling penting) jauh dari kesan protokoler. Jadi, tentunya, mengabaikan pejabat pemerintah adalah hal yang penting agar kegiatan ini tidak berbau Pemda.

Saya sih yakin, Depok bisa.

Leave a Reply